Diberdayakan oleh Blogger.

New

Artikel

Kolom Guru

Prestasi

Agenda Sekolah

Info Pendaftaran

Pentingnya Istiqamah dalam Beribadah

 

Pentingnya Istiqamah dalam Beribadah

Oleh: Suwarno
Ketua Majelis Tabligh PCM Bulu

 

Ramadhan telah mengubah hidup kita. Banyak kaum muslimin yang tadinya jarang menyentuh Al-Qur’an, di bulan Ramadhan ini jadi rajin membacanya. Banyak kaum muslimin yang tadinya jarang shalat jama’ah, di bulan Ramadhan ini jadi rajin mengerjakannya. Banyak kaum muslimin yang tadinya sulit qiyamul lail, di bulan Ramadhan ini setiap malam menunaikannya. Ibadah-ibadah ini perlu kita jaga, agar tidak berhenti setelah Ramadhan pergi. Ketika kita menetapi iman dan menjaga ibadah terus berkelanjutan, inilah yang disebut istiqamah. Khususnya istiqamah dalam ibadah.

 

Mengapa kita harus Istiqamah dalam Beribadah

 

1.       Istiqamah adalah Perintah  Allah Subhanahu wa Ta’ala

Suatu hari ketika masih di Makkah, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beruban. Rambut beliau memutih. “Mengapa rambutmu memutih ya Rasulullah?” sebagian sahabat bertanya. “Rambutku beruban karena surat Hud dan kawan-kawannya,” jawab Sang Nabi. Surat Hud membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beruban. Terutama ketika turun ayat:

 

 بَصِيرٌ تَعْمَلُونَ بِمَا إِنَّهُ  تَطْغَوْا  وَلَا مَعَكَ تَابَ وَمَنْ أُمِرْتَ كَمَا فَاسْتَقِمْ

“Maka istiqamahlah (tetaplah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud [12]: 112)

 

Saat menjelaskan ayat ini dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb menyebutkan tentang rambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba beruban. Karena begitu beratnya istiqamah. “Istiqamah ialah berlaku lurus dan menempuh jalan dengan tidak menyimpang,” tulisnya.

 

“Istiqamah adalah tegak lurus,” terang Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar. “Yaitu teguh pendirian, tidak menyeleweng ke kiri dan ke kanan. Juga tak pernah mundur.”

 

Betapa beratnya istiqamah. Meskipun tahu akhirat adalah kehidupan abadi dan masa depan hakiki, kita kerap tertipu dengan dunia. Kita sering kecanduan dengan kesenangan duniawi. Saat akan istiqamah, datang godaan berbagai game dan aplikasi. Banyak waktu terbuang untuk memainkannya lalu terkalahkanlah ibadah. Tak lagi sempat tilawah sebagaimana Ramadhan. Tak sempat lagi tadabbur dan memperbanyak syukur.

 

Ada godaan lain yang lebih berbahaya dan menjauhkan dari istiqamah. Kecanduan mencari uang dan jabatan hingga menghalalkan segala cara. Ada yang korupsi puluhan milyar atau menjual diri seharga puluhan juta. Sungguh benar ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati kehidupan dunia sebagai mataa’ul ghuruur, kesenangan yang menipu. Menipu kita dari ketaatan. Menipu kita dari ketaqwaan. Menipu kita dari istiqamah.

 

Menyadari bahwa dunia adalah kesenangan menipu, membuat kita waspada. Ketika muncul godaan-godaan, kita sadar itu adalah tipuan yang bisa menjauhkan kita dari istiqamah. Maka kita pun segera kembali. Kembali menguatkan ketaatan dan ibadah. Kembali meniti jalan istiqamah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: “dan sembahlah Rabb mu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).” (Q.S Al-Hijr [15]: 99)

 

2.      Berat tetapi selalu didoakan para Malaikat

Istiqamah itu berat tetapi membahagiakan. Mengapa? Karena orang yang istiqamah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengutus para malaikat untuk menghibur dan mendoakan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahinya ketenangan, keberanian dan optimis dalam kehidupan.

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Fushilat [41]: 30)

 

Ibnu Katsir rahimahullah dan banyak mufassir lainnya menjelaskan bahwa turunnya malaikat dengan menyampaikan pesan meneguhkan itu terjadi saat sakaratul maut. Namun, ada juga yang menafsirkan bahwa keberanian, ketenangan dan optimis itu akan diperoleh orang-orang yang istiqamah sejak di dunia.

 

Maka kita lihat Bilal bin Rabah yang tadinya penakut berubah menjadi pemberani. Kita lihat Mush’ab bin Umair yang penuh ketenangan. Kita melihat para shahabat yang optimis memandang masa depan.

 

3.      Amal yang Paling Dicintai Allah

Istiqamah dalam ibadah, meskipun kuantitasnya sedikit tetapi berkelanjutan, ia merupakan amal yang paling dicintai Allah.

أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ 

“Amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amal yang berkelanjutan walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim)

 

4.      Berat Karena Berhadiah Surga

Istiqamah itu berat karena berhadiah surga. Kalau ringan, hadiahnya mungkin kipas angin atau seterika.

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al Ahqaf [46]: 13-14)

 

Menjaga iman di masa seperti sekarang, memang berat. Istiqamah di zaman yang banyak fitnah seperti ini tidak mudah. Namun, di situlah tantangannya. Beratnya istiqamah akan mengantarkan ke dalam surga. Abadi dalam kebahagiaan selama-lamanya.

 

Kiat Agar Istiqamah dalam Ibadah

 

1.      Berkawan dengan Orang yang Istiqamah

Dalam beristiqamah kita memerlukan kawan yang terus mengingatkan kita mengenai amal-amal shalih atau bisa kita jadikan teladan dalam beramal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9]: 119)

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.

 

2.      Membaca Kisah Ahli Istiqamah

Di antara orang yang bisa memotivasi kita untuk senantiasa beramal dengan istiqamah adalah dengan membaca kisah orang-orang yang shalih dan meneladani sikap mereka dalam mengamalkan agama. Ini juga menjadi alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak memberikan kisah-kisah orang shalih para nabi di dalam Al-Qur’an. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud [11]: 120)

 

3.      Memperbanyak Membaca Al-Quran

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwasannya salah satu alasan kitab suci umat islam ini diturunkan ialah untuk meneguhkan keimanan orang-orang yang sudah beriman serta menjadi petunjuk bagi mereka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. An Nahl [16]: 102)

 

Biasanya orang-orang yang tidak istiqamah dalam agama ini adalah mereka yang kurang interaksi dengan Al-Qur’an dan malah sering berinteraksi dengan orang kafir ataupun orang-orang liberal, sekuler dan sejenisnya.

 

4.      Mulai dari Amal-Amal Sederhana

Untuk menjadi pribadi agar tetap istiqamah, langkah yang kita perlu lakukan yaitu membiasakan diri dengan amalan-amalan sederhana seperti bersedekah, membantu kawan, shalat dhuha dan lain sebagainya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwasannya amalan yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah amal-amal yang terus istiqamah walaupun sedikit.

 

5.      Perbanyak Do’a Memohon Pertolongan Allah

Salah satu sifat khas yang dimiliki orang beriman yaitu selalu memohon dan berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi ketetapan hati dalam kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdo’a kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman dalam menghadapi ujian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir‘. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran [3]: 146-148)

 

Itulah penjelasan mengenai pentingnya  istiqamah dan keutamaan serta kiat-kiat agar kita tetap istiqamah. Sekian kultum kali ini, semoga bermanfaat dan menambah wawasan serta menjadi sumber inspirasi bagi kita semua. Amiin

 

Sebelum Ramadhan berakhir, kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjaga semangat ibadah kita. Kita bermujahadah agar meskipun Ramadhan berlalu, kita tetap shalat berjamaah lima waktu. Meskipun susah, kita upayakan setiap hari tilawah. Meskipun berat, kita berusaha tiap malam shalat tahajud minimal dua rakaat. Wallahul Musta’an

Malas No More, Shalat Forever

 

Malas No More, Shalat Forever

Oleh: Shafni Ulwan Tansiqi, S.Ag

 

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Pertama, mari kita panjatkan segala puja-puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan yang mencipatakan langit dan bumi, alam semesta berserta isinya.Rasa syukur patut kita haturkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan dan kesempatan serta  inayah-Nya sampai detik ini kita masih mengagungkan nama-Nya.

 

Kedua, shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan besar, Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Berkat dakwah dan perjuangan beliau membawa umat manusia dari kebodohan menuju agama Islam rahmatan lil ‘alamiin.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjid  Al-Haram ke Masjid Al-aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra’: 1)

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Syariat shalat tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa Isra’Mi’raj. Isra’ merupakan perjalanan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari Masjid Al-Haram (Makkah) menuju Masjid Al-Aqsa (Yerusalem).  Sedangkan Mi’raj adalah proses kenaikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari Masjid Al-Aqsa atau bait Al-Maqdis menembus langit ke-7 menuju Sidratul Muntaha. Perjalanan ini menjadi fenomenal sebab hanya ditempuh dalam waktu semalam, bersama Jibril ‘alaihis salam sebagai tour guide-nya.

 

Peristiwa Isra’ Mi’raj ini menjadi sebuah ‘healing’ bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari kesedihan (Amul huzn) atas meninggalnya sang istri–Khadijah dan pamannya–Abu Thalib. Dalam kitab Qishatu Al-Mi’raj karya Syekh Najmuddin Al-Ghaithi dijelaskan secara rinci perjalanan yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari dibersihkannya dada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dengan ‘zam-zam’ oleh Jibril dan Mikail, didatangkan buraq dan dimulailah perjalanan (Isra’) sampai di Masjid Al-Aqsa. Di sinilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat dua rakaat, memimpin jamaah ruh para nabi.

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Selesai shalat bersama ruh para nabi, dimulailah Mi’raj Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam naik ke sama’ Al-Dunya (Langit pertama) di sana bertemu dengan Adam. Dan di langit-langit selanjutnya bertemu dengan nabi-nabi sampai di langit keenam bertemu dengan Musa. Dan di langit terakhir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam disambut oleh bapaknya para Nabi (Abu Al-Anbiya’) yakni Ibrahim ‘alaihis salam yang sedang menyandarkan punggungnya di baitul makmur. (Qishotu Al-Mi’raj 13-19)

 

Jamaah sekalian, perlu kita ketahui dalam kitab Qishotu Al-Mi’raj diceritakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam diperlihatkan berbagai macam kejadian, balasan bagi orang yang baik semasa hidupnya ataupun sebaliknya. Perjalanan ‘singkat’ ini banyak memberi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pelajaran dan hikmah. Dan yang menjadi puncak dari Isra’-Mi’raj yakni ‘oleh-oleh’ dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di Sidratul Muntaha berupa syariat shalat. MasyaAllah.

 

Shalat secara makna itu adalah dzikir atau do’a, secara istilah perkataan dan gerakan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu. (Al-Shalatu min Al-Fiqh ‘alaAl-Madzhab Al-Arba’ah). Menilik berbagai kitab-kitab terkait Isra Mi’raj di antara pembahasanya juga selalu membahas perihal syariat shalat. Sebab Isra Mi’raj dan syariat shalat bagaikan dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Jika kita lihat proses syariat shalat cukup menarik. Yakni bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam turun-naik langit untuk meminta ‘dispensasi’ atau keringanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas saran dari nabi Musa. Pertama-tama, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi syariat shalat 50 kali dalam sehari semalam. Lalu turunlah Rasulullah dan Sidratul Muntaha bertemulah dengan Musa di langit keenam. Mengetahui syariat shalat 50 kali, Musa pun menyarankan Rasulullah kembali dan meminta keringanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Dalam kitab karangan Najmuddin Al-Ghaithi diterangkan bahkan nabi pun merasa malu ketika harus meminta keringanan lagi setelah yang paling terakhir yaitu 5 rakaat sehari. Dari 50 harakat menjadi 5 harakat merupakan rahmat dan keringanan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. MasyaAllah.

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Jika kita perhatikan, sungguh shalat merupakan syairat yang cukup istimewa bagi umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Kita lihat dalam surat Al-Ankabut 45 Allah berfirman–Wa lazikrullah akbar yang artinya bahwa mengingat Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya) dari yang lain. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang langsung memberikan syariat shalat kepada kekasih-Nya, Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sidratul Muntaha–tempat istimewa–menjadi saksi.

 

Maka penting untuk kita sebagai kaum muslim–mukmin memperhatikan shalat terkhusus shalat 5 waktu. Males No More, Shalat Forever. Akan menjadi lebih baik jika shalat sunah juga senantiasa diistiqamahkan. Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa shalat menjadi tiang dari agama Islam:

 

اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدِّيْنُ وَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ تَرَكَ الدِّيْنَ

"Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkan shalat, maka berarti telah menegakkan agama. Dan barang siapa meninggalkan shalat, maka ia telah merobohkan agamanya”.

 

Hadist di atas menujukkan betapa penting dan pokoknya ibadah shalat, hingga diumpamakan sebagai tiangnya agama. Artinya tegaknya Islam berbanding lurus dengan tegaknya shalat, dan begitu sebaliknya. Yakni robohnya Islam disebabkan tidak lain karena lalainya umat dalam mengerjakan shalat. Seperti halnya sebuah bangunan rumah, yang menjadi asas utama tegakan tidaknya adalah tiang yang menyangga.

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Ada ilustrasi menarik, disajikan oleh seorang pengguna (user) media sosial tentang bagaimana shalat itu menjadi bagian yang sangat vital dalam Islam. Seorang memperlihatkan dirinya sedang menggenggam sebuah botol yang diumpamakan sebagai agama Islam. Saat botol itu digenggam kelima jarinya (Rukun Islam), maka botol tetap aman dalam genggamannya. Dan saat jari jemari satu per satu dilepaskan, dari kelingking (haji), manis (puasa), tengah (zakat), terlihat masih aman. Akan tetapi saat jari telunjuk (shalat) juga dilepaskan maka yang terjadi botol itu terjatuh.

 

Bagi seorang muslim shalat menjadi rukun yang harus dikerjakan setelah syahadat. Artinya di antara kelima rukun Islam, shalat menjadi hal paling mendasar yang harus dijaga dan ditegakkan oleh umat Islam. Pasalnya shalat merupakan simbol penghambaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di saat yang sama menjadi sebuah media kita berkomunikasi dengan-Nya. Kita ingat, bahwa tujuan pokok diciptakannya manusia yaitu untuk ‘menghamba’ pada-Nya. (Al-Dzariyat 56)

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Tentang pentingnya ibadah shalat, Rasulullah bersabda dalam hadistnya bahwa amalan pertama yang akan dihisab di hari akhir yaitu shalat.

 

أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِننْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Yang paling pertama dihisab pada seorang hamba di hari kiamat adalah sholat . Jika (shalat nya) baik, maka baiklah seluruh amalnya, sedangkan jika (sholat nya) buruk, maka buruklah seluruh amalnya”

 

Dalam hadist lain, diriyawatkan oleh Abu Hurairah Rasulullah bersabda:

 

 

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu”. (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386)

 

Berbicara tentang shalat dalam konteks kekinian menjadi sebuah hal yang urgen–keharusan–bagi umat Islam. Wa bil khusus, para orang tua yang memiliki tanggung jawab untuk senantiasa membiasakan dan memberi ‘paham’ anak-anaknya bahwa shalat itu kewajiban dan kebutuhan setiap hamba. Nabi berkata dalam salah satu hadistnya yang artinya;

 

Nabi Muhammad bersabda, perintahkanlah anak untuk melaksanakan shalat saat menginjak usia tujuh tahun, dan hukumlah jika mereka meninggalkan shalat saat memasuki usia sepuluh tahun.

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Saat ini kemajuan teknologi sangat berdampak pada ‘tindak-tanduk’ bahkan karakter anak dan juga orang dewasa. Dengan adanya berbagai macam media sosial–youtube, instagram, facebook, twitter hingga yang paling mutakhir dan paling digandrungi khususnya di kalangan anak muda yaitu tiktok–aplikasi video. Kita harus memahami bahwa dunia ini telah berubah secara drastis. Segala sesuatu terpusat dalam genggaman tangan berupa gadget–android hingga iphone. Saat ini tidak ada jarak–tidak berlaku, saat ini semua jadi dekat, semuanya tersedia di handphone android kita. Manusia super sibuk dengan ‘dunianya’.

 

Pertanyaannya, di dunia yang serba ‘menyibukkan’  ini, apa makna shalat bagi manusia? Terkhusus bagi generasi muda, sepenting apakah shalat baginhya? Apa arti shalat dibanding bermain game dari pagi ke pagi, berdiam di warung kopi setiap hari. Shalat seolah tidak memiliki makna dan dampak bagi kehidupannya, manusia jauh dari ajaran agamanya. Itulah yang terjadi hari ini.

 

Kita bersama melihat banyak sekali fenomena yang menunjukkan bahwa umat Islam tergilas dengan kemajuan zaman. Kesadaran akan pentingnya nilai-nilai ibadah–shalat, puasa, zakat, dzikir, mebaca Al-Qur’an–mengalami kepunahan bahkan hilang. Kita diatur oleh berbagai macam hiburan, dan tontonan di layar android kita. Sudakah kita menyadari hal itu?

 

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Akankah kita hanya datang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saat membutuhkan saja? Dan lupa akan kewajiban yang harus kita tunaikan, yakni menyembah kepada-Nya. Kita sebagai manusia seringkali disibukkan oleh urusan dunia. Kita berpikir keras memikirkan cara hidup yang baik, tapi lupa untuk mempersiapkan cara mati yang baik. Shalat merupakan amalan pertama dan utama, untuk itu kita harus selalu mendorong diri kita semangat menunaikannya. Males No More, Shalat Forever. Wallahu a’lam bishawab.

Qadha atau Nyawal dulu?

 

Qadha atau Nyawal dulu?

Dr. H. Ali Trigiyatno, M.Ag

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ. وَنُصَلِّيْ وَنُسَلِّمُ عَلَى خَيْرِ اْلأَنَامِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ


Hadirin yang berbahagia, salah satu amalan yang dianjurkan selepas bulan suci Ramadhan adalah puasa enam hari pada bulan Syawal. Puasa 6 hari di bulan Syawal dihukumi sunnah oleh mazhab Syafi’i dan Hanbali, namun dihukumi Makruh oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Demikian dijelaskan oleh Imam an-nawawi dalam Syarh Sahih Muslim IV : 186.

Tampaknya pendapat yang menyunnahkan lebih kuat mengingat hadis sahih yang menyebutkan keutamaan puasa enam hari Syawal ialah yang diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari RA:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ، رضى الله عنه – أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ :‏ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ [رواه مسلم، والترمذي،وابن ماجه، وأبو داود)

Artinya: Dari Abu Ayyub al-Anshari RA bahwa ia mendapat riwayat Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa sudah melakukan puasa Ramadan, kemudian menambahkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah melaksanakan puasa setahun. (HR Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Dawud).

Pelaksanaannya puasa syawal sendiri boleh dilakukan berturut-turut mulai tanggal 2 Syawal dan seterusnya, tapi juga boleh terpisah-pisah selama masih bulan Syawal. Maka dari itu, keutamaan yang besar ini jangan sampai terlewatkan hanya karena kita malas menjalankannya.

Sebagian ulama kontemporer kurang menganjurkan langsung berpuasa mulai tanggal 2 Syawal mengingat dalam budaya sekarang satu pekan di awal Syawal digunakan untuk budaya Syawalan atau saling bersilaturahmi yang tentunya butuh tenaga ekstra utuk mudik yang jaraknya bisa jauh. Selain itu jika tuan rumah berpuasa, tamu juga bisa jadi kurang nyaman ketika disuguhi karena tuan rumah sedang berpuasa.

Hadirin yang berbahagia. Bagaimana kalkulasi matematiknya kok puasa Ramadhan lalu 6 hari di bulan syawal seperti puasa setahun (jika rutin setiap tahun menjalankan seperti sepanjang masa). Begini, setiap kebaikan itu minimal akan dilipatkan 10 x, jika satu bulan Ramadhan 30 hari x 10 sama dengan 300, terus kita tambah 6 hari x 10 sama dengan 60, jika ditotal sama dnegan 360 hari. Bukankah 1 tahun qamariyah hanya sekitar 354 hari?

Muncul pertanyaan, saya mau puasa Syawal, tetapi saya masih punya hutang puasa Ramadhan? Bagaimana ini, saya puasa qadha atau nyaur dulu atau puasa Syawal dulu?

Idealnya, yang namanya hutang puasa Ramadhan yang hukumnya wajib ya mestinya didahulukan untuk dilunasi. Di mana amalan wajib mestinya didahulukan dari amalan sunnah. Maka nyaur puasa Ramadhan dulu baru puasa Syawal. Ini yang lebih pas dan kuat.

Namun demikian, seandainya karena satu dan lain hal menjalankan puasa qadha dirasa sangat memberatkan karena misalnya jumlah hutangnya banyak sampai belasan hari misalnya, maka sebagian ulama memberi kelonggaran untuk puasa Syawal dulu karena waktu qadha` pada dasarnya luas hingga 11 bulan berikutnya. Wallahu a’lam.

Saudara-saudaraku yang budiman. Muncul pertanyaan lagi, bolehkah menggabung niat puasa qadha sekaligus puasa Syawal? Dalam hal ini sebenarnya ada khilafiyah di kalangan ulama.

Dijelaskan dalam fatwa Majma' al-Buhuts al-Islamiyah Al-Azhar as-Syarif, berikut tiga perbedaan pendapat mengenai persoalan menggabungkan puasa Syawal dengan puasa qadha: Pertama, bagi seseorang yang menggabungkan niat puasa enam hari di bulan Syawal dengan qadha Ramadan, maka salah satu puasa saja yang dianggap sah. Adapun pendapat ini adalah pendapat ulama Hanabilah. Kedua, puasa qadha yang digabung dengan puasa Syawal dianggap sah keduanya. Pendapat ini didukung oleh ulama Malikiyah dan mayoritas ulama Syafi'iyah. Ketiga, tidak diperbolehkan menggabungkan dua niat puasa tersebut. Pendapat ini didukung oleh sebagian ulama Syafiiyah dan suatu riwayat ulama Hanabilah.

Hanya saja yang lebih kuat Insya Allah yang niatnya sendiri-sendiri. Jadi kalau mau fokus qadha ya qadha dulu, baru jika waktu masih ada kita puasa Syawal. Jadi pendapat yang paling aman dari khilafiyah adalah, jika masih ada kewajiban melunasi hutang puasa Ramadhan kita puasa qadha dulu dan baru berpuasa di bulan Syawal, dalam hal ini tidak ada khilafiyah di kalangan ulama.

Tapi ingat, hutang puasa hanya diperbolehkan bagi mereka yang mengalamai udzur syar’i seperti sakit, safar, haidh, nifas, bukan bagi mereka yang tidak berpuasa secara sengaja tanpa ada udzur syar’i.

Demikian kultum singkat semoga bisa dipahami dan diamalkan.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Menggapai Lailatul Qadar

 

Menggapai Lailatul Qadar

Oleh: H. Bimawan Syamsudin, S.P

Pembina Majelis Tabligh PDM Sukoharjo

 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr [97]: 3 – 5)

 

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, yang membawa petunjuk hidup bagi umat manusia. Hari ini, mari kita bahas tentang suatu malam yang amat istimewa dan penuh berkah, yaitu Lailatul Qadar.

 

Ramadhan disebut bulan yang paling utama (afdlal al-syuhur) karena di dalamnya terdapat malam yang disebut Lailatul Qadar (malam yang lebih baik dari seribu bulan). Lailatul-Qadar adalah malam ketetapan atau malam kepastian tentang qadar atau ukuran rezeki manusia. Pada malam itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan dan menentukan nasib seseorang untuk periode setahun yang akan datang.

 

Lailatul Qadar adalah malam terbaik di antara malam-malam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan. Salah satu keistimewaannya bahwa ibadah yang dilaksanakan pada malam itu dilipatgandakan pahalanya dan lebih baik dari orang beribadah selama 1.000 bulan.

 

Lailatul Qadar ini juga, adalah momen ketika Al-Qur’an diturunkan utuh 30 Juz, dari Lauhil-Mahfuz ke langit dunia (Baitul al-‘Izzah). Seseorang yang mendapatkan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala di malam Lailatul Qadar itu, adalah karunia yang sangat dahsyat. Mengapa? Karena orang yang terlewatkan dari malam Lailatul Qadar ini, tidak mudah baginya untuk memperpanjang usianya sampai usia 83 tahun (1000 bulan).

 

Ibnu Qayyim rahimahullah membagi makna malam Lailatul Qadar menjadi dua. Makna pertama adalah malam yang agung. Makna kedua adalah malam yang sempit. Malam yang agung karena penuh dengan kebaikan atau bahkan pelipatan kebaikan. Semua kebaikan pahala diobral habis oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hamba-Nya yang mau. Sementara makna malam yang sempit, karena bumi pada malam tersebut menjadi penuh sesak disebabkan banyaknya malaikat yang turun untuk menebar keberkahan. Terkadang suasana ini juga bisa kita rasakan dengan lebih tenang dan lebih damai dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya dan sesudahnya.

 

Bagaimana Peristiwa Lailatul Qadr Terjadi

1.      Terjadi pada bulan Ramadhan

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 

تَحَرَّوْا لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِن العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِن رَمَضَانَ

“Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadar (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari)

 

Inilah dalil yang dijadikan pijakan kaum muslimin untuk mendapatkan Lailatul Qadar di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Apakah Lailatul Qadar ini mungkin juga terjadi di luar Ramadhan? Wallahu a’lam. Yang jelas bahwa keterangan di hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha ini menerangkan bahwa Lailatul Qadar terjadi di dalam bulan Ramadhan.

 

Ada baiknya jika kita persiapkan sejak jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan, karena di 10 hari terakhir Ramadhan ini aktifitas kemasyarakatan, keluarga, ekonomi akan mengalami peningkatan. Maka jika tidak kita persiapkan sejak awal, terkadang kita sulit mengantisipasi. Sehingga waktu-waktu yang seharusnya untuk mengencangkan ibadah, berganti dengan aktifitas keduniaan, untuk mengejar persiapan lebaran.

 

2.      Lailatul Qadar terjadi sepanjang malam, sejak maghrib hingga subuh

Lailatul Qadar berada pada rentang dari maghrib sampai subuh, maka peristiwa apapun yang terjadi sepanjang rentang itu berarti ada pada rentang waktu Lailatul Qadar.

 

Semua orang yang melakukan ibadah ketika itu, berarti dia telah melakukan ibadah di Lailatul Qadar. Besar dan kecilnya pahala yang dia dapatkan, tergantung dari kualitas dan kuantitas ibadah yang dia kerjakan di malam itu.

 

Oleh karena itu, sekalipun dia hanya mengerjakan ibadah wajib saja, shalat maghrib dan isya’ di malam qadar, dia mendapatkan bagian pahala beribadah di Lailatul Qadar.

 

Imam Malik rahimahullah meriwayatkan secara balaghan (tanpa sanad), menukil keterangan Said bin Musayib rahimahullah (tabiin senior, menantu Abu Hurairah radhiallahu’anhu) tentang orang yang beribadah ketika Lailatul Qadar.

 

أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ كَانَ يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا

Bahwa Said bin Musayab pernah mengatakan, “Siapa yang ikut shalat isya’ berjamaah di lailatul qadar, berarti dia telah mengambil bagian lailatul qadar.” (Muwatha’ Malik, no. 1146)

 

Az-Zarqani menjelaskan kalimat itu dalam syarah Muwatha’nya,

 

فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا، أَيْ: نَصِيْبَهُ مِنْ ثَوَابِهَا

“dia telah mengambil bagian lailatul qadar” maknanya dia mendapat bagian dari pahala lailatul qadar. (Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha, 3/463)

 

Penjelasan tentang istimewa dan mudahnya kita mendapatkan banyak pahala dan kebaikan di peristiwa Lailatul Qadar di atas bukan berarti mengajak kita untuk bermalas-malasan dalam meraih pahala. Tetapi sebaliknya, dengan penjelasan ini diharapkan kaum muslimin semakin semangat dalam mengejar Lailatul Qadar, karena semua orang yang beribadah di dalamnya pasti mendapatkannya. Banyak dan sedikitnya, tergantung dari kesungguhan dirinya dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka yang bersungguh-sungguh, akan mendapatkan petunjuk, sehigga dimudahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mendapatkan banyak kebaikan di malam itu.

 

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69)

 

Peristiwa Lailatul Qadar ini hanya terjadi di bulan Ramadhan, itulah yang menjadikan kita harus semangat. Ibarat pedagang yang memberikan diskon di bulan-bulan tertentu, maka biasanya pembeli akan menguras kemampuannya mendapatkan barang itu, karena “mumpung diskon”. Begitulah juga Lailatul Qadar, mumpung diobral oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di bulan Ramadhan maka kita sekuat tenaga harus bisa mendapatkannya, mbuh piye carane.

 

Jika kita analogikan dengan harga discount tadi, dan kita tidak bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, maka tatkala harga sudah kembali normal, maka kita akan lebih sulit lagi mendapatkannya. Kira-kira begini logikanya, “Jika dengan harga discount (murah) saja kita tidak bisa membeli, maka bagaimana jika harganya sudah kembali normal lagi.”

 

Imam Qatadah rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang gagal mendapatkan Maghfirah (ampunan) selama bulan Ramadhan, maka bisa dipastikan akan lebih sulit untuk mendapatkannya di luar bulan Ramadlan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 371)

 

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan malam-malam terakhir di bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Perbanyaklah ibadah, bacaan Al-Qur’an, doa, dan dzikir. Berusahalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus dan ikhlas. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini untuk mendapatkan keberkahan dan ampunan dari-Nya.

 

Semoga kita semua dapat meraih malam Lailatul Qadar dan mendapatkan berkah serta ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin. Wallahu a’lam bish shawwab