ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ
ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ
ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ
ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ.
ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ
ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى
يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ
ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ
ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ
ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ
ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ.
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ
ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ
ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ. ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛
ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ
ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ
ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ
ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.
Hadirin yang Berbahagia…
Al-Qur’an adalah cahaya yang diturunkan kepada seluruh manusia. Cahaya penerang bagi setiap insan yang mendambakan kehidupan yang lebih tentram, damai dan sejahtera. Selain sebagai cahaya, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang telah salah jalan dan merindukan kembali ke jalan kebenaran yang hakiki.
Salahsatu petunjuk Al-Qur’an adalah dengan banyaknya ayat yang memberikan berbagai contoh kisah umat terdahulu supaya kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran. Misalnya kisah orang serakah, digambarkan dengan Qarun, kisah pemimpin yang zalim, digambarkan dengan Fir’aun, kisah pemimpin yang adil, digambarkan dengan Nabi Sulaiman AS, dan kisah-kisah lain yang dapat menjadi ibrah untuk kita semua.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT juga menggambarkan bagaimana sebuah bangsa yang dulunya makmur, aman, sentosa serta sejahtera, namun karena polah penduduk yang mendiami negeri tersebut bersikap angkuh, sombong, serta membangkang atas nikmat dan karunia Allah SWT. Sehingga negeri yang sebelumnya subur, Allah SWT turunkan berbagai macam bencana baik di darat maupun di laut. Akhirnya negeri tersebut porak poranda, hancur sehancur hancurnya. Allah SWT berfirman:
وَضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا
رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ
لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl [16]: 112)
Kalau kita membaca secara seksama ayat tersebut dan menengok ke negeri kita Indonesia, sepertinya ada sinyal bahwa negeri kita tercinta ini sedang disindir dengan ayat tersebut. Bagaimana tidak, untuk kesuburan dan kemakmuran, siapa yang bisa menyangkal negeri Indonesia. Iklim yang teratur, cuaca yang sangat sejuk, tidak ditemukan cuaca yang ekstrim. Sehingga menjadikan negeri ini memiliki keanekaragaman hayati dan hewani begitu banyak dan berkembang biak dengan subur.
Presiden Republik Indonesia kedua Jenderal HM Soeharto pernah berkata bahwa Indonesia adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo (negeri yang aman, subur, makmur dan sentosa, warganya hidup damai dan sejahtera). Bahkan ada lagu yang memuji Indonesia dengan syair: “Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu...
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman…”
Hadirin yang Berbahagia…
Namun belakangan ini kita melihat, kondisi negeri kita tercinta tidak lagi senikmat lagu yang dilantunkan oleh Koes Plus tersebut. Negeri kita yang dulunya makmur, rakyatnya yang bahagia, beberapa tahun ini sudah mulai sirna. Bencana demi bencana terus melanda. Gunung meletus, banjir, tanah longsor, gempa bumi serta bencana alam lainnya sudah menjadi berita sehari-hari. Sudah tidak terhitung berapa banyak korban yang meninggal akibat bencana alam yang datang silih berganti. Menjadi pertanyaan besar, ada apa dengan negara kita Indonesia tercinta ini?
Apabila kita kembali melihat dan membaca dengan baik Al-Qur’an, Allah SWT begitu jelas menggambarkan sebab-sebab suatu negeri atau daerah Allah SWT turunkan azab-Nya berupa bencana yang bertubi-tubi. Minimal ada tiga kelompok manusia yang menjadi sebab Allah SWT menurunkan azab-Nya.
Pertama, Penguasa Penentang Perintah Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَإِذَا
أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا
فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra’ [17]: 16)
Dalam ayat di atas, Allah SWT menggambarkan bagaimana suatu negeri diberikan bencana akibat perilaku orang yang hidup mewah (elit). Orang-orang elit menurut penafsiran beberapa ulama memiliki banyak makna. Ibnu Jarir mengemukakan bahwa elit (mutrafun) dimaknai dengan penguasa. Penguasa yang telah diberi amanah namun justru khianat dalam menjalankannya. Penguasa yang menjadi khalifah di muka bumi yang seharusnya menegakkan kalimat-kalimat Allah SWT, menjalankan perintah-Nya, justru berbalik dan menentang aturan dan perintah-Nya. Penguasa seharusnya dengan kekuasaan yang dimiliki mampu membawa rakyatnya makin beriman dan bertakwa tentu menjadi sesuatu yang didamba oleh setiap warga. Penguasa yang seperti inilah yang dapat mencegah terjadinya bencana.
Perilaku pemimpin yang bejat, para politisi jahat yang menjadikan kekuasan hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Tanpa mempedulikan rakyat yang dipimpinnya. Mereka membuat kebijakan yang hanya memperoleh keuntungan bagi diri dan koleganya. Mereka sama sekali tidak mempedulikan ayat-ayat dan perintah Al-Qur’an, Al-Qur’an hanya dijadikan simbol dan seremonial saja. Kalaupun dipakai, akan dipilah-pilah ayat mana saja yang sesuai kepentingannya. Maka negeri yang dipimpin oleh kelompok penguasa seperti inilah yang diancam oleh Allah SWT akan mendapatkan azab yang diturunkan berupa bencana dan malapetaka.
Adapun syarat sebuah negeri yang aman sentosa serta dapat berkah, ukurannya adalah sejauh mana tingkat keimanan dan ketakwaan para penduduk negeri tersebut. Allah SWT berfirman:
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكٰتٍ
مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنٰهُم بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 96)
Jadi tugas utama penguasa adalah bagaimana menjadikan masyarakat yang dipimpinnya makin meningkat keimanan dan ketakwaannya melalui kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Inilah sumber keberkahan sebuah negeri bila menginginkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Hadirin yang Berbahagia…
Kedua, Perusak Alam yang Merajalela. Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Kerusakan dan berbagai bencana alam yang terjadi bukanlah datang dari Allah SWT secara langsung agar manusia menderita dan binasa. Tetapi yang menyebabkan terjadinya kerusakan dan munculnya bencana adalah manusia itu sendiri, karena Allah SWT tidak pernah menzalimi manusia sedikitpun, tetapi manusialah yang telah menzalimi diri mereka sendiri.
Keserakahan manusia yang merusak hutan-hutan dengan menebang pohon secara membabi buta dan membakarnya, manusialah yang merubah tanah yang subur menjadi apartemen-apartemen dan pusat-pusat perbelanjaan, hal itu diperparah dengan sampah-sampah yang dibuang di sungai-sungai, sehingga terjadilah banjir di mana-mana. Manusialah yang mendirikan pabrik-pabrik yang mengeluarkan asap-asap beracun dan menjadikan sungai-sungai tercemar dengan limbah industri dan sisa insektisida. Manusialah yang memproduksi kendaran bermotor secara besar-besaran, manusialah yang membuat pabrik-pabrik rokok dan mengisapnya sehingga udara menjadi tercemar. Semua itu bisa memicu munculnya berbagai macam penyakit, seperti penyakit paru-paru, mata perih, gangguan pernafasan, kanker kulit dan penyakit asma.
Sehingga apabila terjadi bencana, baik itu tanah longsor, banjir bandang, maka hal tersebut sangat wajar terjadi. Manusia dengan keserakahannya telah berani melawan hukum alam. Alam mengamuk, sehingga terjadi malapetaka.
Padahal secara penciptaannya, Allah SWT menciptakan alam dengan berbagai keanekaragaman yang terdapat di dalamnya adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia memerlukan air untuk minum, untuk memasak, untuk mencuci dan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-harinya. Manusia membutuhkan udara yang segar supaya bisa bernapas dengan lega. Manusia membutuhkan pasir, batu dan kayu untuk bahan membuat rumah dan bangunan sebagai tempat perlindungan dan tempat tinggal. Akan tetapi kebutuhan akan hal tersebut senantiasa membuat manusia merasa kekurangan apabila dalam dirinya terdapat sifat serakah dan rakus.
Keserakahan dan kerakusan inilah yang menjadikan tidak seimbangnya antara kekayaan alam yang ada dan kebutuhan manusia. Air dari alam yang sangat cukup dan berlimpah, namun karena dieksplorasi besar-besaran, dijadikan sebagai alat komiditi, diperdagangkan dengan masif tanpa melihat dampak yang akan terjadi, sehingga ketika musim kemarau menimbulkan kekeringan yang berkepanjangan. Penebangan hutan yang di luar batas, illegal logging, dan penebangan yang membabi buta, sehingga berdampak ketika hujan, yang terjadi adalah tanah longsor dan banjir bandang. Inilah semua yang terjadi akibat sikap dan serakah yang diperturutkan.
Hadirin yang Berbahagia…
Ketiga, Pelaku maksiat makin banyak dan tidak ada yang mencegah. Allah SWT berfirman:
لُعِنَ
الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى
ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ
بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَكَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ
ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al Maidah [5]: 78-79)
Golongan berikutnya yang menjadi pengundang hadirnya bencana di suatu negeri adalah terlalu banyaknya pelaku maksiat. Di dalam Al-Qur’an begitu banyak kisah orang terdahulu diazab oleh Allah SWT dengan berbagai macam azab karena perilaku maksiat yang dilakukan. Umat Nabi Luth AS misalnya, diazab oleh Allah SWT dengan bencana hujan batu dan badai besar yang menjadikan mereka semua binasa. Mereka diazab oleh Allah SWT karena perilaku seks yang menyimpang. Selanjutnya umat Nabi Musa AS, bersama Firaun ditenggelamkan di Laut Merah karena maksiat dan menentang untuk taat kepada Allah SWT.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ
فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ
وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ
هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ
العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي
أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ
كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Hadirin yang Berbahagia…
Negeri kita tercinta patut untuk berintropeksi. Kejadian alam dan seringnya terjadi bencana bukan semata-mata karena kejadian alam belaka. Sebagai orang beriman ayat di atas sangat memberikan kita pelajaran besar. Bahwa dengan maksiat yang makin banyak dan beragam serta merajalela di mana-mana dan ditambah pula orang yang tidak peduli dan tidak yang mencegahnya, hal ini menjadi pemicu hadirnya bencana. Kita perlu bertanya apakah di negeri kita ini maksiat makin banyak atau makin berkurang. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا
ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ
عَذَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Apabila zina dan riba telah nampak di suatu kampung, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri-diri mereka (ditimpa) adzab Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. At-Thabrani, Al-Hakim)
Semoga Allah SWT menghindarkan kita dari segala bencana dan azab-Nya, baik yang menimpa di dunia ini, apalagi di akhirat nanti. Aamiin...
إِنَّ
اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ
آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ
الدِّيْنِ،
اللَّهُمَّ
إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللَّهُمَّ
اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ
إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ
نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ
إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ
القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ
زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،
اللَّهُمَّ
إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ،
وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اللهمّ
أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا
وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا
ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النّارِ.
عِبَادَاللهِ
! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Comments