Diberdayakan oleh Blogger.

New

Artikel

Kolom Guru

Prestasi

Agenda Sekolah

Info Pendaftaran

SMA Imam Syuhodo Non Pesantren Buka Penerimaan Murid Baru 2026/2027


Sukoharjo – SMA Muhammadiyah Imam Syuhodo kembali membuka penerimaan murid baru untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Sekolah yang dikenal dengan motto Taqwa, Prestasi, Mandiri ini membuka kesempatan bagi siswa-siswi terbaik untuk bergabung melalui Program Non Pesantren/Pulang/Tidak Mondok.

Pendaftaran dibuka dalam tiga gelombang. Gelombang Inden berlangsung mulai 1 September hingga 30 Oktober 2025. Gelombang 1 dibuka pada 1 November 2025 sampai 30 Januari 2026, sedangkan Gelombang 2 berlangsung dari 2 Februari hingga 30 April 2026.

Adapun syarat pendaftaran meliputi: mengisi formulir pendaftaran, melampirkan fotokopi Kartu Keluarga, fotokopi Akta Kelahiran, fotokopi NISN, serta pas foto 3x4 sebanyak 2 lembar. Calon peserta didik juga dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp150.000.

SMA Muhammadiyah Imam Syuhodo terus berkomitmen menghadirkan pendidikan berkualitas yang menyeimbangkan nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan keterampilan abad 21. Dengan fasilitas lengkap, tenaga pendidik berpengalaman, serta berbagai kegiatan penunjang, sekolah ini siap melahirkan generasi yang unggul dan berakhlak mulia.

Bagi masyarakat yang berminat, pendaftaran dapat dilakukan langsung di Kantor SMA Muhammadiyah Imam Syuhodo Kampus II, Jl. KH. Ahmad Dahlan, Wonorejo, Polokarto, Sukoharjo (Utara Lapangan/Balai Desa). Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Call Center di 0856 4218 1128.

Dengan kuota terbatas, pihak sekolah mengimbau agar para calon siswa segera mendaftarkan diri sebelum masa pendaftaran berakhir.

Siswa Kelas 8 SMP Imam Syuhodo Ikuti ANBK 2025


Sukoharjo – SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo menyelenggarakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) Tahun 2025 yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 8. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Rabu dan Kamis (27-28 Agustus 2025), dengan materi asesmen yang berbeda di tiap harinya. Pada hari pertama, asesmen difokuskan pada literasi, sementara itu, di hari kedua, siswa mengerjakan survei karakter.

Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo Muhammad Fatkhul Hajri, S.Pd, M.Pd menyampaikan bahwa ANBK bukanlah ujian penentu kelulusan, melainkan program evaluasi dari pemerintah untuk memetakan mutu pendidikan secara nasional. “Melalui ANBK, kita berharap kualitas pembelajaran semakin meningkat, baik dari aspek literasi, maupun karakter peserta didik,” ujar Hajri.

Kepala sekolah juga memberikan semangat kepada para siswa agar tetap percaya diri dan mengerjakan soal dengan tenang. “Selamat menempuh ANBK. Tetap tenang, percaya diri, dan lakukan yang terbaik. Mari jadikan ANBK sebagai langkah menuju pendidikan Indonesia yang lebih hebat dan bermartabat,” pesan Hajri.

Dengan terlaksananya ANBK 2025 ini, SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.

SMP Imam Syuhodo Buka Inden Pendaftaran Murid Baru Tahun Ajaran 2026/2027


Sukoharjo – SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo kembali membuka sistem pendaftaran murid baru (SPMB) untuk tahun ajaran 2026/2027. Dengan tagline “Sekolahnya Para Juara yang Beradab”, sekolah ini berkomitmen mencetak generasi berprestasi yang unggul dalam akademik, berkarakter Islami, dan berbudaya juara.

Calon peserta didik dapat melakukan pendaftaran dengan melengkapi persyaratan berupa fotokopi KK, akta kelahiran, NISN, raport kelas 5 semester 2, pas foto berwarna, serta mengikuti observasi siswa baru. Biaya administrasi pendaftaran sebesar Rp300.000.



Selain mengedepankan prestasi akademik maupun non-akademik, SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo juga menanamkan program pembiasaan Islami. Di antaranya shalat dhuha, shalat berjamaah, muhadloroh, murojaah, halaqah tahfidz, dzikir pagi-petang, hingga kajian fiqih mingguan.

Khusus pendaftar pada bulan September, sekolah memberikan potongan infaq pengembangan sebesar Rp600.000.

Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui Call Center di nomor 0812 3338 6679, atau mengunjungi website resmi sekolah di www.spmmu-imamsyuhodo.sch.id.

SMP Imam Syuhodo Umumkan Perubahan Nomor Layanan Call Center


Sukoharjo – SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo resmi mengganti nomor layanan call center sekolah. Mulai hari ini, masyarakat, orang tua, dan calon peserta didik dapat menghubungi sekolah melalui nomor baru 0812 3338 6679, sedangkang nomor lama 0822-2353-9613 dinyatakan tidak aktif lagi

Pihak sekolah menyampaikan bahwa perubahan nomor layanan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan mempermudah akses informasi. Melalui nomor tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi seputar kegiatan sekolah maupun layanan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026/2027.

“Kami berharap dengan adanya nomor baru ini, layanan informasi bagi orang tua dan calon peserta didik dapat berjalan lebih lancar. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin ditimbulkan, serta terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya,” demikian keterangan resmi dari pihak SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo.

Dengan adanya perubahan ini, sekolah mengimbau seluruh pihak terkait untuk segera menyimpan nomor layanan terbaru agar tidak ketinggalan informasi penting.

Khutbah Jumat: 3 Golongan Pengundang Bencana


ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ.

ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ. ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛

ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

Hadirin yang Berbahagia…

Al-Qur’an adalah cahaya yang diturunkan kepada seluruh manusia. Cahaya penerang bagi setiap insan yang mendambakan kehidupan yang lebih tentram, damai dan sejahtera. Selain sebagai cahaya, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang telah salah jalan dan merindukan kembali ke jalan kebenaran yang hakiki.
Salahsatu petunjuk Al-Qur’an adalah dengan banyaknya ayat yang memberikan berbagai contoh kisah umat terdahulu supaya kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran. Misalnya kisah orang serakah, digambarkan dengan Qarun, kisah pemimpin yang zalim, digambarkan dengan Fir’aun, kisah pemimpin yang adil, digambarkan dengan Nabi Sulaiman AS, dan kisah-kisah lain yang dapat menjadi ibrah untuk kita semua.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT juga menggambarkan bagaimana sebuah bangsa yang dulunya makmur, aman, sentosa serta sejahtera, namun karena polah penduduk yang mendiami negeri tersebut bersikap angkuh, sombong, serta membangkang atas nikmat dan karunia Allah SWT. Sehingga negeri yang sebelumnya subur, Allah SWT turunkan berbagai macam bencana baik di darat maupun di laut. Akhirnya negeri tersebut porak poranda, hancur sehancur hancurnya. Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl [16]: 112)

Kalau kita membaca secara seksama ayat tersebut dan menengok ke negeri kita Indonesia, sepertinya ada sinyal bahwa negeri kita tercinta ini sedang disindir dengan ayat tersebut. Bagaimana tidak, untuk kesuburan dan kemakmuran, siapa yang bisa menyangkal negeri Indonesia. Iklim yang teratur, cuaca yang sangat sejuk, tidak ditemukan cuaca yang ekstrim. Sehingga menjadikan negeri ini memiliki keanekaragaman hayati dan hewani begitu banyak dan berkembang biak dengan subur.
Presiden Republik Indonesia kedua Jenderal HM Soeharto pernah berkata bahwa Indonesia adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo (negeri yang aman, subur, makmur dan sentosa, warganya hidup damai dan sejahtera). Bahkan ada lagu yang memuji Indonesia dengan syair: “Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu...
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman…”

Hadirin yang Berbahagia…
Namun belakangan ini kita melihat, kondisi negeri kita tercinta tidak lagi senikmat lagu yang dilantunkan oleh Koes Plus tersebut. Negeri kita yang dulunya makmur, rakyatnya yang bahagia, beberapa tahun ini sudah mulai sirna. Bencana demi bencana terus melanda. Gunung meletus, banjir, tanah longsor, gempa bumi serta bencana alam lainnya sudah menjadi berita sehari-hari. Sudah tidak terhitung berapa banyak korban yang meninggal akibat bencana alam yang datang silih berganti. Menjadi pertanyaan besar, ada apa dengan negara kita Indonesia tercinta ini?
Apabila kita kembali melihat dan membaca dengan baik Al-Qur’an, Allah SWT begitu jelas menggambarkan sebab-sebab suatu negeri atau daerah Allah SWT turunkan azab-Nya berupa bencana yang bertubi-tubi. Minimal ada tiga kelompok manusia yang menjadi sebab Allah SWT menurunkan azab-Nya.
Pertama, Penguasa Penentang Perintah Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra’ [17]: 16)

Dalam ayat di atas, Allah SWT menggambarkan bagaimana suatu negeri diberikan bencana akibat perilaku orang yang hidup mewah (elit). Orang-orang elit menurut penafsiran beberapa ulama memiliki banyak makna. Ibnu Jarir mengemukakan bahwa elit (mutrafun) dimaknai dengan penguasa. Penguasa yang telah diberi amanah namun justru khianat dalam menjalankannya. Penguasa yang menjadi khalifah di muka bumi yang seharusnya menegakkan kalimat-kalimat Allah SWT, menjalankan perintah-Nya, justru berbalik dan menentang aturan dan perintah-Nya. Penguasa seharusnya dengan kekuasaan yang dimiliki mampu membawa rakyatnya makin beriman dan bertakwa tentu menjadi sesuatu yang didamba oleh setiap warga. Penguasa yang seperti inilah yang dapat mencegah terjadinya bencana.
Perilaku pemimpin yang bejat, para politisi jahat yang menjadikan kekuasan hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Tanpa mempedulikan rakyat yang dipimpinnya. Mereka membuat kebijakan yang hanya memperoleh keuntungan bagi diri dan koleganya. Mereka sama sekali tidak mempedulikan ayat-ayat dan perintah Al-Qur’an, Al-Qur’an hanya dijadikan simbol dan seremonial saja. Kalaupun dipakai, akan dipilah-pilah ayat mana saja yang sesuai kepentingannya. Maka negeri yang dipimpin oleh kelompok penguasa seperti inilah yang diancam oleh Allah SWT akan mendapatkan azab yang diturunkan berupa bencana dan malapetaka.
Adapun syarat sebuah negeri yang aman sentosa serta dapat berkah, ukurannya adalah sejauh mana tingkat keimanan dan ketakwaan para penduduk negeri tersebut. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنٰهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 96)

Jadi tugas utama penguasa adalah bagaimana menjadikan masyarakat yang dipimpinnya makin meningkat keimanan dan ketakwaannya melalui kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Inilah sumber keberkahan sebuah negeri bila menginginkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Hadirin yang Berbahagia…
Kedua, Perusak Alam yang Merajalela. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ (QS. Ar-Rum [30]: 41)

Kerusakan dan berbagai bencana alam yang terjadi bukanlah datang dari Allah SWT secara langsung agar manusia menderita dan binasa. Tetapi yang menyebabkan terjadinya kerusakan dan munculnya bencana adalah manusia itu sendiri, karena Allah SWT tidak pernah menzalimi manusia sedikitpun, tetapi manusialah yang telah menzalimi diri mereka sendiri.
Keserakahan manusia yang merusak hutan-hutan dengan menebang pohon secara membabi buta dan membakarnya, manusialah yang merubah tanah yang subur menjadi apartemen-apartemen dan pusat-pusat perbelanjaan, hal itu diperparah dengan sampah-sampah yang dibuang di sungai-sungai, sehingga terjadilah banjir di mana-mana. Manusialah yang mendirikan pabrik-pabrik yang mengeluarkan asap-asap beracun dan menjadikan sungai-sungai tercemar dengan limbah industri dan sisa insektisida. Manusialah yang memproduksi kendaran bermotor secara besar-besaran, manusialah yang membuat pabrik-pabrik rokok dan mengisapnya sehingga udara menjadi tercemar. Semua itu bisa memicu munculnya berbagai macam penyakit, seperti penyakit paru-paru, mata perih, gangguan pernafasan, kanker kulit dan penyakit asma.
Sehingga apabila terjadi bencana, baik itu tanah longsor, banjir bandang, maka hal tersebut sangat wajar terjadi. Manusia dengan keserakahannya telah berani melawan hukum alam. Alam mengamuk, sehingga terjadi malapetaka.
Padahal secara penciptaannya, Allah SWT menciptakan alam dengan berbagai keanekaragaman yang terdapat di dalamnya adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia memerlukan air untuk minum, untuk memasak, untuk mencuci dan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-harinya. Manusia membutuhkan udara yang segar supaya bisa bernapas dengan lega. Manusia membutuhkan pasir, batu dan kayu untuk bahan membuat rumah dan bangunan sebagai tempat perlindungan dan tempat tinggal. Akan tetapi kebutuhan akan hal tersebut senantiasa membuat manusia merasa kekurangan apabila dalam dirinya terdapat sifat serakah dan rakus.
Keserakahan dan kerakusan inilah yang menjadikan tidak seimbangnya antara kekayaan alam yang ada dan kebutuhan manusia. Air dari alam yang sangat cukup dan berlimpah, namun karena dieksplorasi besar-besaran, dijadikan sebagai alat komiditi, diperdagangkan dengan masif tanpa melihat dampak yang akan terjadi, sehingga ketika musim kemarau menimbulkan kekeringan yang berkepanjangan. Penebangan hutan yang di luar batas, illegal logging, dan penebangan yang membabi buta, sehingga berdampak ketika hujan, yang terjadi adalah tanah longsor dan banjir bandang. Inilah semua yang terjadi akibat sikap dan serakah yang diperturutkan.

Hadirin yang Berbahagia…
Ketiga, Pelaku maksiat makin banyak dan tidak ada yang mencegah. Allah SWT berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَكَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al Maidah [5]: 78-79)

Golongan berikutnya yang menjadi pengundang hadirnya bencana di suatu negeri adalah terlalu banyaknya pelaku maksiat. Di dalam Al-Qur’an begitu banyak kisah orang terdahulu diazab oleh Allah SWT dengan berbagai macam azab karena perilaku maksiat yang dilakukan. Umat Nabi Luth AS misalnya, diazab oleh Allah SWT dengan bencana hujan batu dan badai besar yang menjadikan mereka semua binasa. Mereka diazab oleh Allah SWT karena perilaku seks yang menyimpang. Selanjutnya umat Nabi Musa AS, bersama Firaun ditenggelamkan di Laut Merah karena maksiat dan menentang untuk taat kepada Allah SWT.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Hadirin yang Berbahagia…
Negeri kita tercinta patut untuk berintropeksi. Kejadian alam dan seringnya terjadi bencana bukan semata-mata karena kejadian alam belaka. Sebagai orang beriman ayat di atas sangat memberikan kita pelajaran besar. Bahwa dengan maksiat yang makin banyak dan beragam serta merajalela di mana-mana dan ditambah pula orang yang tidak peduli dan tidak yang mencegahnya, hal ini menjadi pemicu hadirnya bencana. Kita perlu bertanya apakah di negeri kita ini maksiat makin banyak atau makin berkurang. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Apabila zina dan riba telah nampak di suatu kampung, maka sungguh mereka telah menghalalkan diri-diri mereka (ditimpa) adzab Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. At-Thabrani, Al-Hakim)

Semoga Allah SWT menghindarkan kita dari segala bencana dan azab-Nya, baik yang menimpa di dunia ini, apalagi di akhirat nanti. Aamiin...

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ،

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ،

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Khutbah Jumat: Kemerdekaan dalam Islam


ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ

ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ، ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ

Jamaah jum’at rahimakumullah,
Sebentar lagi kita akan memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah, yang wajib kita syukuri. Namun, Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, melainkan bebas dari segala bentuk aktifitas yang menjauhkan dari Allah.

Pertama, merdeka dari kesyirikan. Hakikat kemerdekaan yang paling agung adalah ketika seorang hamba hanya tunduk, patuh, dan menyembah Allah semata. Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

"Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah selain Allah, (sembahan) yang tidak dapat mengabulkan (doa)-nya sampai hari Kiamat." (QS. Al-Ahqaf [46]: 5)

Syekh Ibnu Utsaimin berkata: "Menjadi hamba Allah adalah kemerdekaan yang hakiki. Barangsiapa tidak menghamba kepada Allah, dia akan menjadi hamba kepada selain-Nya."

Kedua, merdeka dari hawa nafsu. Seorang merdeka sejati adalah yang tidak diperbudak oleh hawa nafsunya. Allah ﷻ berfirman:

فَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

"Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah." (QS. Shad [38]: 26)

Ketiga, merdeka dari fitnah dunia. Hidup dunia penuh dengan ujian harta, jabatan, dan kesenangan yang menipu. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Al-Hadid: 20)

Maka jamaah jum’at rahimakumullah, kemerdekaan sejati adalah saat seorang Muslim bebas dari belenggu syirik, hawa nafsu, dan godaan dunia yang menyesatkan.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah Kedua

ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَٱلْمُرْسَلِينَ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Jamaah jum’at rahimakumullah, ketahuilah, kemerdekaan yang kita rayakan hanyalah semu bila hati kita masih terikat pada syirik, hawa nafsu, dan cinta dunia yang berlebihan. Tidak ada kemerdekaan sejati, kecuali jika kita menjadi hamba Allah semata. Rasulullah ﷺ bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَالدِّينَارِ

"Celakalah wahai budak dirham dan dinar." (HR. Al Bukhari)

Semoga Allah ﷻ menguatkan iman kita hingga akhir hayat, dan mengumpulkan kita kelak bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shaleh. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّالْإِسْلَامَا وَ الْمُسلِمِين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ المُجَاهِدِينَ وَاْلمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلَسْطِين

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ المُجَاهِدِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Menjaga Amanah dalam Kepemimpinan AUM


Muhammad Nasri Dini

Guru SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo


Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) merupakan wujud nyata dari dakwah Peryarikatan Muhammadiyah di berbagi bidang, termasuk di dalamnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Sekolah, rumah sakit, panti asuhan, BMT, koperasi, hingga universitas adalah beberapa di antara pilar gerakan dakwah yang dibangun untuk melayani umat dengan semangat untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Sebagaimana dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) hasil keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta tahun 2000, pada Pedoman Kehidupan dalam Mengelola Amal Usaha poin 2 secara tegas disebutkan bahwa, “Amal Usaha Muhammadiyah adalah milik Persyarikatan, dan Persyarikatan bertindak sebagai badan hukum/yayasan dari seluruh amal usaha itu, sehingga semua bentuk kepemilikan Persyarikatan hendaknya dapat diinvestarisasi dengan baik serta dilindungi dengan bukti kepemilikan yang sah menurut hukum yang berlaku. Karena itu, setiap pimpinan dan pengelola amal usaha Muhammadiyah di berbagai bidang dan tingkatan berkewajiban menjadikan amal usaha dan pengelolaannya secara keseluruhan sebagai amanat umat yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya”.

Klaim Kepemilikan AUM
AUM merupakan manifestasi dakwah Persyarikatan. Maka mengelola atau memimpin AUM bukan sekadar tanggung jawab yang ringan. Ini adalah ladang dakwah sekaligus amal jariyah. Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi bagian dari AUM, baik di depan layar sebagai pengelola atau pimpinan AUM, maupun di belakang layar sebagai pimpinan Muhammadiyah yang membawahi AUM tersebut, maka ia sejatinya telah menjadi bagian dari misi besar Muhammadiyah. Oleh karena itu, mengelola AUM seharusnya diiringi dengan semangat untuk membesarkan dakwah Islam.
Namun dalam perjalanannya, muncul beberapa tantangan internal yang menguji keikhlasan dan komitmen kita dalam menjaga marwah AUM. Mulai dari klaim kepemilikan pribadi, dominasi non-struktural, hingga kepemimpinan yang jauh dari sentuhan ideologi Muhammadiyah. Tulisan sederhana ini mencoba mengulas prinsip-prinsip utama yang harus dijaga dalam kepemilikan dan pengelolaan AUM menurut PHIWM.

Pertama, AUM adalah milik Persyarikatan. Salah satu prinsip paling mendasar yang disebutkan pada pedoman mengelola AUM dalam PHIWM di atas adalah bahwa AUM adalah milik Persyarikatan Muhammadiyah, bukan milik pribadi, keluarga pendiri, donator atau kelompok tertentu. Persyarikatan bertindak sebagai badan hukum resmi atas seluruh AUM. Oleh karena itu, segala bentuk aset, baik tanah, bangunan, maupun fasilitas lainnya, harus tercatat secara sah dan legal atas nama Persyarikatan Muhammadiyah, sehingga dilindungi dari klaim pihak luar.
Sangat disayangkan, jika menilik kondisi di lapangan, ada beberapa pihak yang justru menjadikan AUM sebagai alat pengaruh, memperlakukannya seperti milik warisan, atau bahkan mewariskan jabatan pengelolaan secara turun-temurun. Hal ini bertentangan dengan prinsip kolektif kolegial Persyarikatan dan berpotensi menimbulkan fitnah serta keretakan internal.

Kedua, Kepemimpinan AUM adalah amanah, bukan hak pribadi. Kepemimpinan dalam AUM bukanlah hak milik, melainkan amanah yang diangkat dan diberhentikan oleh Pimpinan Persyarikatan sesuai dengan jenjangnya. Oleh karena itu, setiap pimpinan AUM harus tunduk dan loyal terhadap kebijakan Peryarikatan, serta tidak boleh menjadikan posisinya sebagai alat kekuasaan atau sumber keuntungan pribadi.
Ini sejalan dengan panduan pengelolaan AUM poin 3 yang disebutkan dalam PHIWM, bahwa “Pimpinan amal usaha Muhammadiyah diangkat dan diberhentikan oleh Pimpinan Persyarikatan dalam kurun waktu tertentu. Dengan demikian pimpinan amal usaha dalam mengelola amal usahanya harus tunduk kepada kebijaksanaan Persyarikatan dan tidak menjadikan amal usaha itu terkesan milik pribadi atau keluarga, yang akan menjadi fitnah dalam kehidupan dan bertentangan dengan amanat”.
Seorang pimpinan AUM yang benar adalah mereka yang menyadari bahwa jabatannya bersifat sementara dan harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada Persyarikatan, tetapi juga kepada Allah SWT. Jabatan bukan untuk dikekalkan, tetapi untuk dilaksanakan dengan integritas, kompetensi, dan keikhlasan. Edukasi dan penyadaran tentang kepemilikan AUM kepada warga dan para pimpinan Muhammadiyah tentu menjadi sangat penting, agar tidak ada pihak-pihak yang merasa “memiliki” AUM secara pribadi.

Ketiga, Keanggotaan dan kekaderan adalah syarat mutlak kepemimpinan AUM. Pimpinan AUM haruslah kader Muhammadiyah yang memiliki keahlian di bidang AUM yang dikelolanya. Keanggotaan ini bukan sekadar status administratif, tetapi menunjukkan komitmen ideologis dan kesetiaan terhadap tujuan Persyarikatan. Tanpa status keanggotaan dan kekaderan, akan sulit memastikan bahwa pimpinan memahami arah gerakan, manhaj, dan semangat dakwah Muhammadiyah.
Sebagaimana dalam panduan mengelola AUM pada PHIWM poin 4 disebutkan bahwa, “Pimpinan amal usaha Muhammadiyah adalah anggota Muhammadiyah yang mempunyai keahlian tertentu di bidang amal usaha tersebut. Karena itu, status keanggotaan dan komitmen pada misi Muhammadiyah menjadi sangat penting bagi pimpinan tersebut, agar yang bersangkutan memahami secara tepat fungsi amal usaha tersebut bagi Persyarikatan. Dan bukan semata-mata sebagai pencari nafkah yang tidak peduli dengan tugas-tugas dan kepentingan Persyarikatan.”
Lebih dari itu, selain keanggotaan Muhammadiyah harus mengikat seorang pimpinan AUM, ia harus benar-benar dicelup dengan sentuhan perkaderan Muhammadiyah agar terus dapat berjalan dalam budaya yang sesuai dengan manhaj Muhammadiyah yang mengutamakan amanah, keikhlasan, bukan semata-mata profesionalisme kosong. Kaderisasi pimpinan AUM yang serius dan berkelanjutan dalam perkaderan formal seperti Darul Arqom maupun Baitul Arqom tentu harus dijalankan oleh pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan, agar dapat benar-benar mencetak pimpinan AUM yang tidak hanya profesional tetapi juga sekaligus ideologis.

Keempat, Transparansi dan akuntabilitas adalah keniscayaan. Pengelolaan AUM, khususnya dalam hal keuangan dan aset, harus dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada beberapa kasus AUM yang bermasalah adalah karena penyimpangan, atau ketergelinciran pimpinan AUM dalam hal keuangan. Maka pimpinan AUM wajib membuat laporan berkala dan bersedia diaudit oleh Pimpinan Persyarikatan sesuai wewenangnya. Audit dan pengawasan bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan wujud dari sistem yang sehat dan terjaga dari penyalahgunaan wewenang.
Hal ini sesuai dengan pedoman pengelolaan AUM poin ke-8 dalam PHIWM, yang berbunyi, “Pimpinan amal usaha Muhammadiyah berkewajiban melaporkan pengelolaan amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya, khususnya dalam hal keuangan/kekayaan kepada pimpinan Persyarikatan secara bertanggung jawab dan bersedia untuk diaudit serta mendapatkan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku”.
Jika seorang pimpinan menutup diri dari pengawasan, atau bahkan merasa terganggu dengan sistem kontrol organisasi, maka itu menunjukkan bahwa ada yang keliru atau diselewengkan dalam pengelolaannya. Pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan (PPM, PWM, PDM, PCM, PRM) sebagai otoritas organisasi harus benar-benar serius dalam pengawasan dan pembinaan AUM secara tegas dan konsisten.

Teladan Para Pendahulu: Amanah Tanpa Warisan
Sejak awal berdirinya Muhammadiyah, para pemimpin kita telah memberi teladan yang agung tentang makna amanah, keikhlasan dan kepemimpinan tanpa pamrih pribadi. KH Ahmad Dahlan, sang pencerah pendiri Persyarikatan, pelatak dasar kepemimpinan Muhammadiyah tidak mewariskan kekuasaan, pengaruh, atau harta milik Persyarikatan kepada anak-anaknya sendiri.
Padahal beliau memiliki keluarga, anak-anak, dan keturunan yang sampai sekarang masih bisa kita temui. Namun dalam jejak sejarah Muhammadiyah, tidak pernah kita jumpai kisah bahwa sekolah yang beliau dirikan diwariskan kepada anaknya, atau rumah sakit yang beliau gagas dijadikan milik keluarganya. Semua amal usaha yang beliau rintis diserahkan kepada Persyarikatan Muhammadiyah, sebagai amanah kolektif umat, bukan warisan keluarga.
Jejak ini dilanjutkan oleh para pimpinan setelahnya. Apakah kita mendengar KH. Mas Mansur, Buya AR Fachruddin, bahkan hingga Prof. Din Syamsuddin mewariskan jabatan atau AUM kepada anak atau kerabat mereka? Tidak. Mereka memimpin Muhammadiyah dengan semangat “lillahita'ala”, bukan “lil diri sendiri” atau “lil keluarga”. Bahkan dari mereka justru kita melihat bahwa Persyarikatan dipastikan tidak menjadi milik pribadi siapa pun.
Inilah ruh yang membedakan Muhammadiyah dengan beberapa organisasi lain: tidak ada dinasti, tidak ada pewarisan kekuasaan, tidak ada penguasaan AUM secara pribadi. Semua kembali kepada prinsip Persyarikatan: musyawarah, kolektif kolegial, dan berbasis sistem, bukan figur.
Jika ada di antara kita yang mulai merasa bahwa AUM ini “milik saya”, “hasil perjuangan bapak saya”, “peninggalan keluarga saya”, maka kita sejatinya telah menyimpang dari manhaj para salaf dalam Muhammadiyah. Kita bukan lagi pembela Persyarikatan, tapi pelan-pelan sedang menjadi perusaknya. Karena sejatinya Muhammadiyah tidak membutuhkan pewaris, tetapi membutuhkan pelanjut perjuangan. Bukan siapa anak siapa, tetapi siapa yang mampu dan amanah.

Penutup: AUM sebagai Amanah dan Ladang Dakwah
AUM bukan tempat mencari pengaruh, jabatan, atau materi. Ia adalah amanah besar dari umat yang dipercayakan kepada Persyarikatan Muhammadiyah untuk dikelola secara jujur dan profesional dalam rangka untuk melayani umat. Siapa pun yang diberi amanah untuk memimpin AUM, hendaknya menyadari bahwa ia sedang memikul beban perjuangan, bukan sekadar pekerjaan.
Sebagaimana pesan Allah SWT, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil...” (QS. An-Nisa’ [4]: 58). Wallahu a’lam bish shawab.

*) Tulisan ini dimuat di Majalah Tabligh Edisi No. 8/XXIII - Shafar 1447 H / Agustus 2025 M